PERILAKU MENYIMPANG PADA REMAJA
Kata
Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan
inayah-Nya. Shalawat dan salam semoga di limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga dan para sahabat-Nya.
Makalah ini kami buat
semata-mata untuk keperluan siswa siswi ataupun masyarakat yang sekiranya di
kemudian hari memerlukannya. Makalah ini juga dapat di manfaatkan oleh para
guru sebagai bahan mengajar.
Materi makalah ini di
susun dari berbagai sumber pembelajaran di sekolah maupun yang lainnya. Kami
selaku penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi siswa siswi ataupun
orang-orang yang membacanya untuk menjadi ladang amal.
Meskipun kami telah
berusaha semaksimal mungkin menyuguhkan makalah ini dalam wujud yang terbaik,
kami yakin pasti tak lepas dari kekurangan, sesuai dengan peri bahasa yang
mengatakan bahwa, ”Tak Ada Gading Yang Tak Retak’’,maka penulis menerima kritik
dan saran terbuka bagi semua pihak untuk sempurnanya kami dalam menyusun
makalah pada masa-masa mendatang.
Akhirnya kami sampaikan
terima kasih atas segala bentuk kerjasamanya semoga Allah SWT. Meridhoi ikhtiar
kita dalam membangun generasi Indonesia melalui makalah ini,Amin.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 3
A. Latar
Belakang........................................................................................ 3
B. Rumusan
masalah……………………………………………………... 4
C. Tujuan
pembahasan…………………………………………………… 4
D. Manfaat
pembahasan………………………………………………….. 4
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 5
A. Definisi
perilaku menyimpang.................................................................. 5
B. Ciri
ciri perilaku menyimpang.................................................................. 7
C. Jenis
perilaku menyimpang....................................................................... 8
D. Sifat
perilaku menyimpang........................................................................ 9
E. Masalah
yang dihadapi remaja................................................................... 9
F. Bentuk perilaku menyimpang………………………………………….... 12
G. Dampak
perilaku menyimpang………………………………………....... 15
H. Tips
untuk mengatasi dan mencegah perilaku menyimpang remaja…....... 16
BAB III kesimpulan
dan saran saran............................................................ 17
A. KESIMPULAN........................................................................................ 17
B. SARAN.................................................................................................... 18
C. DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................. 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Masalah sosial merupakan ketidaksesuaian antara unsur-unsur
kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Masalah sosial merupakan akibat interaksi sosial antara individu, individu dengan
kelompok maupun antar kelompok. Kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai
masalah sosial oleh masyarakat tergantung dari system sosial masyarakat
tersebut. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat yang
pada umumnya sama misalnya, kemiskinan, kriminalitas, masalah kependudukan,
masalah generasi muda dalam masyarakat modern.
Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya karena
pada periode itu seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak-anak untuk menuju
ketahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Masa ini dirasakan sebagai suatu
krisis karena belum adanya pegangan sedangkan kepribadiannya sedang mengalami
pembentukan, pada waktu itu dia memerlukan bimbingan terutama dari orang tua.
Anak yang menginjak masa remaja sudah sewajarnya menuntut banyak
perhatian para orang tua. Mereka tentu saja sudah sadar diri dan oleh karenanya
mudah mengundang perhatian kepada diri mereka sendiri walaupun seringkali
mengatakan tidak menginginkan perhatian semacam itu. Perkembangan zaman yang
telah maju dengan pesat telah mengubah gaya hidup remaja sekarang, dari
kebiasaan mereka, minat mereka, bahasa dan pakaian yang mereka gunakan, politik
dan musik yang mereka sukai, juga perkembangan seksualitas mereka. Bahkan sudah
lazim bahwa keprihatinan orang tua terhadap kaum remaja sering kali tidak
disambut baik oleh mereka, dianggap ikut campur dan mengakibatkan pembangkangan
dari para pria dan wanita muda yang cemas dan berniat meraih kebebasan yang
makin besar ini.
Apalagi dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini yang maju begitu
pesat dan sudah merambah kedalam kehidupan masyarakat kalangan atas maupun
masyarakat kalangan bawah. Hal ini ditandai dengan adanya kemajuan teknologi
komunikasi. Transportasi yang mengundang masyarakat semakin konsumtif. Sehingga
mempengaruhi perilaku dan gaya hidup mereka terutama para remaja yang sedang
dalam masa transisi.
menggunakannya yang
tanpa batas membuat mereka bertindak sesuai dengan umurnya, maka munculah
perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat
sehingga melanggar hokum yang ada dalam masyarakat. Hal inilah yang disebut
dengan kenakaln remaja. Apa yang menyebabkan seorang remaja berperilaku
menyimpang selain dengan adanya modernisasi? Masalah-masalah apa saja yang
terjadi pada masa remaja? Dan bagaimana cara mengatasi perilaku menyimpang yang
dilakukan para remaja?
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan perilaku menyimpang?
2. Apa ciri dan penyebab perilaku menyimpang?
3. Bagaimana dampak perilaku menyimpang?
4. Apa-apa saja teori perilaku menyimpang?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Ada
pun tujuan kami dalam makalah ini agar kelak kehidupan dimasyarakat dapat
terkontrol dengan baik dan jauh dari perilaku menyimpang yang dapat merugikan
para remaja itu sendiri, karena remaja adalah generasi penerus bangsa. Oleh sebab
itu para remaja harus di hindarkan dari perilaku-perilaku menyimpang yang dapat
merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
D. MANFAAT
PEMBAHASAN
Adapun manfaat dari penulisan
makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Para remaja dapat mengetahui dampak perilaku menyimpang yang
dapat ditimbulkan
2. pembaca dapat mengetahui apa yang di maksud perilaku
menyimpang
3. pembaca diharapkan mampu menghindari sikap perilaku
menyimpang
4. Memberikan suatu informasi terhadap para remaja bahwa
penyimpangan dapat merusak dirinya sendiri
5. Pembaca dapat mengetahui penyebab penyebab perilaku remaja
menyimpang
6. Pembaca dapat mengetahui Bentuk-bentuk penyimpangan remaja
yang apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya penyakit sosial dalam
masyarakat
7. Memberikan suatu wawasan yang lebih luas tentang tentang
penyimpangan perilaku remaja
8. Pembaca diharapkan dapat mengetahui penanggulangan yang
tepat terhadap perilaku remaja yang menyimpang dan dapat diterapkan di
masyarakat.
9. Pembaca dapat mengetahui sikap yang tepat dalam menghadapi
perilaku remaja yang menyimpang
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan
norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang
dapat terjadi pada manusia muda, dewasa, atau tua baik laki-laki maupun
perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal pangkat atau jabatan dan
tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat. Penyimpangan bisa terjadi dalam
skala kecil maupun skala besar.
Menurut Bruce J Cohen (dalam buku terjemahan Sahat Simamora),
Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai perilaku yang tidak berhasil
menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam
masyarakat. Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma atau
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Suatu tindakan yang mungkin pantas
dan dapat diterima di satu tempat mungkin tidak pantas dilakukan di tempat yang
lain
Menurut Robert M.Z Lawang, perilaku menyimpang adalah suatu
tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu system
social.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku manusia yang
bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat.
Masa remaja merupakan masa transmisi dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa. Remaja dalam gambaran yang umum merupakan suatu periode
yang dimulai dengan perkembangan masa pubertas dan menyelesaikan pendidikan
untuk tingkat menengah, dimana perubahan biologis yang membawanya pada usia
belasan (teenagers) seringkali mempengaruhi perilaku masa remaja. Para remaja
tersebut sangat peka terhadap gagasan bahwa mereka harus seperti orang dewasa
atau kanak-kanak, sehingga mereka segera mengganti mode pakaiannya.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat
dikalangan atas maupun dikalangan bawah contohnya saja di kota-kota besar.
Dikota Banjarnegara Banyak kasuspergaulan
bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah,
terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang
dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah
merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena
kecelakan
Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang
negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan
dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal
hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut
dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan
pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan
Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
· Semua perbuatan yang dari orang dewasa
merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang
dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
· Semua perbuatan penyelewengan dari norma
kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
· Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan
perlindungan bagi sosial.
o Adapun gejala-gejala yang dapat memperlihatkan
hal-hal yang mengarah
kepada kenakalan remaja :
kepada kenakalan remaja :
· Anak-anak yang tidak disukai oleh
teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian akan dapat
menyebabkan kegoncangan emosi.
· Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari
tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab
biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka
sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan
lain yang tidak terbimbing.
· Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti
bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari
permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
· Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah
dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
· Anak-anak yang suka berbohong.
· Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu
teman-temannya di sekolah atau di rumah.
· Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru
mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
· Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan
perhatian.
B. Ciri ciri perilaku menyimpan
Menurut Wilnes dalam bukunya
Punishment and Reformationsebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi
dua, yaitu sebagai berikut :
· Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang
itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
· Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar
(lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua
dan anak yang tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut
diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor
objektif), yaitu
1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Seseorang
yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia
tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi
akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang
tumbuh dalam keluarga yang retak(broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak
bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak
dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.
2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan
tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan
tentangperilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang
disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. karier penjahat kelas kakap
yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin
berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang.
3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya
ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkanperilaku
yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan
seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu
sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya
berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola
perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola
perilaku menyimpang.
5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang
menyimpang. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang
tindak kejahatan (perilaku menyimpang)Hal inilah yang dikatakan sebagai
prosesbelajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang.
C. Jenis jenis perilaku menyimpang
a. Berdasarkan
kekerapan atau berat-ringannya penyimpangan
1) Penyimpangan
Primer (Primary
Deviation)
Ciri-cirinya :
a. Bersifat
sementara / temporer
b. Gaya hidupnya
tidak didominasi oleh perilaku menyimpang
c. Masyarakat masih mentolerir /
menerima
Contoh: pegawai negeri
yang membolos kerja, banyak minum alkohol pada waktu pesta, siswa yang membolos
atau menyontek saat ujian dan pelanggaran lalu lintas.
2) Penyimpangan
Sekunder (Secondary
Deviation)
Ciri-cirinya :
a. Bersifat
permanen / tetap
b. Gaya hidupnya
didominasi oleh perilaku menyimpang
c. Masyarakat
tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang tersebut.
Contoh: pembunuhan,
perjudian, perampokan dan pemerkosaan.
b. Berdasarkan
jumlah pelakunya
1) Penyimpangan
Individu
Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang
individu dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma
yang berlaku. Contohnya pencurian yang dilakukan sendiri.
2)
Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan secara berkelompok
dengan melakukan tindakan-tindakan menyimpang dari norma-norma masyarakat yang
berlaku. Pada umumnya penyimpangan kelompok terjadi dalam sub kebudayaan yang
menyimpang yang ada dalam masyarakat. Contohnya gank kejahatan atau mafia.
3) Penyimpangan Institusi
Penyimpangan institusi dilakukan oleh organisasi yang melibatkan organisasi
lainnya yang dilakukan rapih. Sebagai contohnya tidakan korupsi yang dilakukan
oleh para pejabat negara.
D. Sifat sifat perilaku menyimpang
Secara umum, terdapat dua sifat penyimpangan, yaitu:
· Penyimpangan yang bersifat positif
Penyimpangan yang bersifat positif
adalah penyimpangan yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena
mengandung unsur inovatif, kreatif dan memperkaya alternatif. Umumnya,
penyimpang ini dapat diterima masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman.
Contoh, emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak
wanita karier
· Penyimpangan yang bersifat negatif
Dalam penyimpangan yang bersifat
negatif, pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan
berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial. Tindakan dan pelakunya akan
dicela dan tidak diterima masyarakat. Bobot penyimpangan dapat diukur menurut
kaidah sosial yang dilanggar. Contoh, seorang koruptor selain harus
mengembalikan kekayaan yang dimilikinya kepada negara, juga tetap dikenakan
hukuman penjara.
E. Masalah yang dihadapi remaja
Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering sekali
ternyata tidak mulus, banyak memgalami berbagai hambatan dan rintangn.
Lebih-lebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase perkembangan
remaja, masa dimana individu mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikis.
Pada fase ini individu mengalami perubahan ynag besar yang dimulai dengan
datangnya masa puber. Datangnya masa puber ditandai dengan kematangan
seksualitas. Sikap-sikap dan perilaku yang terjadi pada masa puber sering
mengganggu tugas-tugas pada masa perkembangan anak pada masa berikutnya yaitu
masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam menjalani
kehidupan pada fase remaja. Beberapa masalah yang dialami para remaja sekarang:
1. Masalah Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap periode “badai dan tekanan” suatu masa
dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akiabat dari perubahan fisik dan
kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang
tampak pada mereka, mudfah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung
meledak-ledak dan tidak mampu mengendalikan perasaannya. Keadaan ini sering
menimbulkan berbagai permasalahn khususnya dalam kaitannya dengan penyesuainan
diri dilingkunganya. Maraknya kasus perkelahian antar pelajar akhir-akir ini
adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja mengolah dan mengendalikan
emosi.
2. Masalah Penyesuaian
Diri
Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan
dengan penyesuian social. Remaja harus meyesuaikan diri dengan lawan jenis,
baik sesama remaja maupun dengan orang-oarang dewasadiluar lingkungan keluarga
dan sekolah. Untuk mencspai pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat
banyak banyak enyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar rumah
bersama-sama temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti kalau pengaruh
teman-temannya sebaya dalam pola perilaku,sikap, minat dan gaya hidupnya lebih
besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat bergantung dari
pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah bergaul,
misalnya berada dalam kelompok pemakai obat-obatan terlarang, minuman keras,
merokok, dan perilaku negative lainnaya. Dalam keadasan demikian
remajacenderung akna mengikutinya tanpa memperdulikan akibat yangakan menimpa
dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan
kebutuhan yang dianggap paling penting. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
remaja mau melaksanakan apa saja yang akan menimpa atas perilaku mereka
tersebut.
3. Masalah Perilaku
Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubunagn dengan
kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan
lawan jenis dan belajar memerankan seks yang diakuinya. Pada masa remaja sudah
mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romants yang didikuti oleh
keinginnan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhtian dari lawan jenis,
sebagai akibatnya remaja mempunyai minat tinggi pada seks. Remaja lebih banyak
mencari informasi tentang seks dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat
dipertanggungjawabkan, misalnya dari tena sebaya yang sama-sam kurang memahami
arti pentingnya seks, internet, media elektronik yan semakin canggih, dan media
cetak yang kadang-kadang lebih mengarah pada pornografi. Sebagai akibat dari
informasi yang salah dapat menimbulkan perilaku seks remkja yang apabila
ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidsak layak untuk dilakukan misalnya
berciuman, bercumbu, mesturbasi, dan bersenggama. Namun generasi sekarang
hal-hgal tersebut dianggap normal atau paling tidak diperbolehkan. (Hurlock,
1980:229)
pergaulan
bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah,
terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang
dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah
merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena
kecelakan.
Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks
bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib
diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak
masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat
mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan
pengenalan organ tubuh internal.
Tidak ada cara instan untuk mengajarkan seks pada anak kecuali
melakukannya setahap demi setahap sejak dini. Kita dapat mengajarkan anak mulai
dari hal yang sederhana, dan menjadikannya sebagai satu kebiasaan sehari-hari.
Tanamkan pengertian pada anak layaknya kita menanamkan pengertian tentang
agama. Kita tahu tidak mungkin mengajarkan agama hanya dalam tempo satu hari
saja dan lantas berharap anak akan mampu menjalankan ibadahannya, maka demikian
juga untuk seks.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai
anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak
makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua
dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini
atau begitu,”
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat
dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Dengan
cara “Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah
buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan
tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung
dapat mengajarkan anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain
membersihkan alat kelaminnya.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai
anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak
makhluk hidup, misalnya pada manusia. Sehingga orangtua dapat memberikan
penjelasan mengenai dampak-dampak yang akan diterima bila anak sudah melakukan
hal-hal yang menyimpangnya. oleh
sebab itu perlunya pendidikan seks sejak dini, bila perlu diberikan
disekolah-sekolah agra para siswa dapat mengetahui pendidikan seks yang benar
dan tidak terjerumus kehal-hal yang negative.
4. Masalah Perilaku Sosial
Tanda-tanda masalah perilaku social pada remaja dapat dilihat dari adanya
diskriminasi terhadap mereka yang terlatar belakang ras, agama, atau social
ekonomi yang berbeda.
Dengan pola-pola perilaku social
seperti ini, maka melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja yang
pembentukanya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku dan social
ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada renaja tersebut dapat
memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan
mengatasi masalah diatas dapat dilakukan dengan menyelenggarakan
kegiatan-kegiatana kelompok dengan tidak memperhatikan latar belakang suku,
agama,ras, dan social ekonomi.
5. Masalah Moral
Masalah moral yang terjadi pada para remja ditandai oleh adanya ketidakmampuan
remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat disebabkan
oleh ketidakkonsisitenan dalam konse benar dan slah yang ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, da kelompok remaja.
Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah dapat membawa
mala petaka bagi kehidupan remja pada khususnya dan pada semua oaring pada
umumnya.
6. Masalah Keluarga
Remaja
sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda.
Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar
modern, sedagkan orang tua tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang
sering menjadi sumber perselisihan antar mereka. Sehingga remaja yang cenderung
keaah modernisasi akan membantah semua yang ditetapkan oleh orang tuanya
sehingga menimbulakan penyimpangan untuk melakukan apa yang sudah
diinginkannya.
F. Bentuk bentuk perilaku menyimpang
Segala
tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Bentuk-bentuk
penyimpangan tersebut apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya
penyakit sosial dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk penyimpangan serta
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat bermacam-macam. Berikut ini
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat.
Minuman keras adalah minuman dengan
kandungan alkohol lebih dari 5%. Akan tetapi, berdasarkan ketetapan dari
Majelis Ulama Indonesia (MUI), setiap minuman yang mengandung alkohol, berapa
pun kadarnya, dapat dikategorikan sebagai minuman keras dan itu diharamkan
(dilarang) penyalahgunaannya.
Adapun yang dimaksud penyalahgunaan
di sini adalah suatu bentuk pemakaian yang tidak sesuai dengan ambang batas
kesehatan. Artinya, pada dasarnya boleh digunakan sejauh hanya untuk maksud
pengobatan atau kesehatan di bawah pengawasan dokter atau ahlinya. Di beberapa
daerah di Indonesia, terdapat jamu atau minuman tradisional yang dapat
digolongkan sebagai minuman keras. Sebenarnya, jika digunakan tidak secara
berlebihan jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman
keras tersebut dapat bermanfaat bagi tubuh. Namun, sangat disayangkan jika jamu
atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman keras tersebut
dikonsumsi secara berlebihan atau sengaja digunakan untuk mabuk-mabukan. Para
pemabuk minuman keras dapat dianggap sebagai penyakit masyarakat. Pada banyak
kasus kejahatan, para pelaku umumnya berada dalam kondisi mabuk minuman keras.
Hal ini dikarenakan saat seseorang mabuk, ia akan kehilangan rasa malunya,
tindakannya tidak terkontrol, dan sering kali melakukan hal-hal yang melanggar
aturan masyarakat atau aturan hukum. Minuman keras juga berbahaya saat
seseorang sedang mengemudi, karena dapat merusak konsentrasi pengemudi sehingga
dapat menimbulkan kecelakaan. Pada pemakaian jangka panjang, tidak jarang para
pemabuk minuman keras tersebut dapat meninggal dunia karena organ lambung atau
hatinya rusak terpengaruh efek samping alkohol yang kerap dikonsumsinya.
2. Penyalahgunaan
Narkotika
Pada awalnya, narkotika digunakan
untuk keperluan medis, terutama sebagai bahan campuran obat-obatan dan berbagai
penggunaan medis lainnya. Narkotika banyak digunakan dalam keperluan operasi
medis, karena narkotika memberikan efek nyaman dan dapat menghilangkan rasa
sakit sementara waktu, sehingga pasien dapat dioperasi tanpa merasa sakit. Pada
pemakaiannya di bidang medis, dibutuhkan seorang dokter ahli untuk mengetahui
kadar yang tepat bagi manusia, karena obat-obatan yang termasuk narkotika
mempunyai efek ketergantungan bagi para pemakainya. Penyalahgunaan narkotika
dilakukan secara sembarangan tanpa memerhatikan dosis penggunaannya.
Pemakaiannya pun dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dihirup asapnya,
dihirup serbuknya, disuntikkan, ataupun ditelan dalam bentuk pil atau kapsul.
Pengguna yang kecanduan, merusak sistem saraf manusia, bahkan dapat menyebabkan
kematian. Berikut adalah contoh zat-zat yang termasuk dalam kategori narkotika.
3. Perkelahian
Antarpelajar
Perkelahian antarpelajar sering
terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar
lainnya. Perkelahian tersebut tidak hanya menggunakan tangan kosong atau
perkelahian satu lawan satu, melainkan perkelahian bersenjata, bahkan ada yang
menggunakan senjata tajam serta dilakukan secara berkelompok. Banyak korban
berjatuhan, bahkan ada yang meninggal dunia. Lebih disayangkan lagi, kebanyakan
korban perkelahian tersebut adalah mereka yang justru tidak terlibat
perkelahian secara langsung. Mereka umumnya hanya sekadar lewat atau hanya
karena salah sasaran pengeroyokan. Kondisi ini jelas sangat mengganggu dan
membawa dampak psikis dan traumatis bagi masyarakat, khususnya kalangan
pelajar. Pada umumnya mereka menjadi was-was, sehingga kreativitas mereka
menjadi terhambat. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian dari semua kalangan
sehingga dapat tercipta suasana yang nyaman dan kondusif khususnya bagi
masyarakat usia sekolah.
Perilaku seks di luar nikah selain
ditentang oleh norma-norma sosial, juga secara tegas dilarang oleh agama.
Perilaku menyimpang ini dapat dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan
yang belum atau bahkan tidak memiliki ikatan resmi. Dampak negatif dari
perilaku seks di luar nikah, antara lain, lahirnya anak di luar nikah,
terjangkit PMS (penyakit menular seksual), bahkan HIV/AIDS, dan turunnya moral
para pelaku.
5. Berjudi
Berjudi merupakan salah satu bentuk
penyimpangan sosial. Hal ini dikarenakan berjudi mempertaruhkan harta atau
nafkah yang seharusnya dapat dimanfaatkan. Seseorang yang gemar berjudi akan
menjadi malas dan hanya berangan-angan mendapatkan banyak uang dengan cara-cara
yang sebenarnya belum pasti. Indonesia merupakan salah satu negara yang
melarang adanya perjudian, sehingga seluruh kegiatan perjudian di Indonesia
adalah kegiatan illegal yang dapat dikenai sanksi hukum. Akan tetapi, dalam beberapa
kasus, aparat keamanan masih menolerir kegiatan perjudian yang berkedok budaya,
misalnya perjudian yang dilakukan masyarakat saat salah seorang warganya
mempunyai hajatan. Langkah ini sebenarnya kurang tepat, mengingat bagaimana pun
juga hal ini tetap merupakan bentuk perjudian yang dilarang agama.
Kejahatan adalah tingkah laku yang
melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat
menentangnya.
Sementara itu secara yuridis formal,
kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan
(immoril), merugikan masyarakat, sifatnya asosiatif dan melanggar hukum serta
undang-undang pidana. Tindak kejahatan bisa dilakukan oleh siapa pun baik
wanita maupun pria, dapat berlangsung pada usia anak, dewasa, maupun usia
lanjut. Tindak kejahatan pada umumnya terjadi pada masyarakat yang mengalami
perubahan kebudayaan yang cepat yang tidak dapat diikuti oleh semua anggota
masyarakat, sehingga tidak terjadi penyesuaian yang sempurna. Selain itu tindak
kejahatan yang disebabkan karena adanya tekanan mental atau adanya kepincangan
sosial. Oleh karena itu tindak kejahatan (kriminalitas) sering terjadi pada
masyarakat yang dinamis seperti di perkotaan. Tindak kejahatan (kriminalitas)
misalnya adalah pembunuhan, penjambretan, perampokan, korupsi, dan lain-lain.
G. Dampak perilaku menyimpang
Berbagai bentuk perilaku menyimpang
yang ada di masyarakat akan membawa dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan
masyarakat pada umumnya.
Berbagai bentuk perilaku menyimpang
yang dilakukan oleh seorang individu akan memberikan dampak bagi si pelaku.
Berikut ini beberapa dampak tersebut.
a.
Memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan
mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau
dijauhi dari pergaulan.
b. Dapat
menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan.
c. Dapat
menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa.
d. Perbuatan
yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
Perilaku penyimpangan juga membawa
dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di
antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini.
a. Dapat
mengganggu keamanan, ketertiban dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
b. Merusak
tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat.
c. Menimbulkan
beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku.
d. Merusak
unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam
kehidupan masyarakat.
Dampak
yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap
pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif.
Demikian pula, menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan
masyarakat.
Namun
demikian, menurut Emile Durkheim, perilaku menyimpang tidak serta merta selalu
membawa dampak yang negatif. Menurutnya, perilaku menyimpang juga memiliki
kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat. Adapun beberapa kontribusi
penting dari perilaku menyimpang yang bersifat positif bagi masyarakat meliputi
hal-hal berikut ini.
H. Tips untuk mengatasi dan mencegah perilaku menyimpang remaja
Beberapa tips untuk mengatasi
dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
· Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang
tua dalam hal apapun.
· Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak
mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang
masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas
yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat
yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas
tersebut.
· Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang
sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena
apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya
dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa
gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
· Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap
media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
· Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah,
karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di
rumah.
· Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan
sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman
kepercayaannya.
· Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan
selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun
kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif.
Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
· sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT
yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia
sedang menghadapi masalah.
BAB III
KESILPULAN DAN SARAN
SARAN
A. KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Perilaku
menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dan
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang dapat terjadi
pada manusia muda, dewasa, atau tua baik laki-laki maupun perempuan. Perilaku menyimpang
ini tidak mengenal pangkat atau jabatan dan tidak juga tidak mengenal waktu dan
tempat. Penyimpangan bisa terjadi dalam skala kecil maupun skala besar.
Ciri-Ciri
Perilaku Menyimpang
· Penyimpangan harus dapat didefinisikan.
· Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak
· Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak
· Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
· Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan.
· Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)
Sebab-Sebab
Perilaku Menyimpang
· Faktor subjektif adalah
faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa
sejak lahir).
· Faktor objektif adalah faktor yang berasal
dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara
orang tua dan anak yang tidak serasi
Jenis-Jenis
Perilaku Menyimpang
· Penyimpangan
Primer (Primary
Deviation)
· Penyimpangan
Sekunder (Secondary
Deviation)
Sifat-Sifat
Perilaku Menyimpang
· Penyimpangan yang bersifat positif
· Penyimpangan yang bersifat negatif
Bentuk-Bentuk
Perilaku Menyimpang
Segala
tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Bentuk-bentuk
penyimpangan tersebut apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya
penyakit sosial dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk penyimpangan serta
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat bermacam-macam. Berikut ini
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat.
Dampak
Penyimpangan Sosial
· Dampak Bagi Pelaku
· Dampak Bagi Orang Lain/Kehidupan Masyarakat
B. Saran
Ada pun
saran dari kami melalui makalah ini ialah:
Sebagai
masyarakat yang hidup dikelilingi oleh hukum hendaknya kita lebih bias bersadar
diri tentang tindakan kita sehari-hari agar yang kita lakukan tidak berdampak
buruk bagi lingkungan yang ada.
C. Daftar
pustaka



